MENGAPA IFSHAH AL-SALAM

IFSYĀ AL-SALĀM, menyebarkan salam kepada sesama mu`min, dianjurkan oleh Rasūlullāh s.a.w. disamping enam anjuran lainnya – menjenguk orang mu`min yang sakit, mengiringi jenazahnya, menjawabnya ketika ia mengucapkan al-hamdu lillāh sewaktu bersin, menepati janji, menolong yang dianiaya, dan memenuhi undangannya – sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhāriy dan Muslim dari Abī ‘Umārah Al-Barrā` ibn ‘Āzib r.a.. Adapun blog ini kunamai IFSHĀH AL-SALĀM karena harapan mudah-mudahan salam yang disebarkan oleh mu`min kepada mu`min merupakan salam yang tulus, jernih tanpa buih-buih kepentingan pribadi, mażhab ataupun golongan – cukuplah bahwa sejak dahulu Allāh telah menamai kita MUSLIM (huwa sammākumu l-muslimīn. Al-Hajj 78). Jangan gunakan sebutan lain kecuali itu sebagai penghormatanmu kepada saudaramu, bukan sebagai pembedamu dengan dia!

Nama IFSHĀH AL-SALĀM juga karena harapan mudah-mudahan dengan AL-SALĀM AL-FUSHHĀ tersebut terbitlah hari-hari cerah tidak lagi mendung bagi segenap umat Islam dan seluruh makhluk Tuhan umumnya, AL-YAWM AL-FISHH. Semoga.

Allāhummagfir li ummati sayyidinā muhammad

Allāhummarham ummata sayyidinā muhammad

Allāhummastur ummata sayyidinā muhammad

Allāhummajbur ummata sayyidinā muhammad

Allāhummashlih ummata sayyidinā muhammad

Allāhumma ‘āfi ummata sayyidinā muhammad

Allāhummahfazh ummata sayyidinā muhammad

Allāhumma farrij ‘an ummati sayyidinā muhammad farjān ‘ājilān yā rabbal-‘ālamīn

Allāhummakrim hāżihil-ummah bi jamīli ‘awā-idika fīd-dāraini ikrāmān li man ja’altahā min ummatihi shallallāhu ‘alaihi wa sallam

Selasa, Agustus 14, 2007

CORAK PERSAUDARAAN ISLAM

Berikut adalah hadīts-hadīts yang menurut penulis menggambarkan corak persaudaraan Islam yang sejati. Hadīts-hadīts tersebut disunting dari kitab Al-Musnad Li l-Imām Ahmad Ibn Hanbal terbitan Dāru l-Fikri tahun 1411 H. atau 1991 M., jilid 1 (padahal semuanya ada 10 jilid dan – menurut ustāż ‘Abdullāh Muhammad Darwisy yang memberi catatannya – terdiri dari 27718 hadīts). Kalau hadīts-hadīts hasil suntingan ini belum sempurna menggambarkan corak persaudaraan Islam, mudah-mudahan di kemudian hari penulis atau seseorang di antara saudara-saudara seimannya, diberi tawfīq untuk menyempurnakannya. Semoga bermanfaat.

Ibn ‘Abbās r.a. bercerita : “Saat orang-orang musyrik berencana membunuh Rasūlullāh s.a.w, ’Aliy ibn Abī Tālib r.a. bersedia mengorbankan jiwanya dengan mengenakan selimut tidur Nabi dan tidur di tempat tidur Nabi, sampai Abū Bakr r.a. yang datang hendak menemui Nabi di kamarnya, tidak tahu kalau yang tidur di tempat tidur Nabi itu adalah ‘Aliy, karena itu Abū Bakr berkata kepada ‘Aliy yang tengah tiduran itu : “ Nabi Allāh.”

Abū Bakr baru menyadarinya ketika ‘Aliy berkata : “Sesungguhnya Nabi Allāh telah pergi menuju Bi`r Maimūn. Temuilah beliau di sana.” Maka Abū Bakr pun berangkat menemui Nabi dan masuk ke sebuah gua bersama beliau.

Malam itu ‘Aliy menjadi sasaran pelemparan batu orang-orang musyrik yang mengira orang yang tengah tidur itu Nabi Allāh, sampai dia menggeliat-geliat kesakitan. Walaupun demikian, dia tetap menyelubungi, terutama bagian kepalanya, dengan selimut tidur Nabi, tidak beranjak sedikit pun, hingga subuh menjelang. (Musnad ‘Abdillāh ibn l-‘Abbās r.a. halaman 709 hadits nomor 3062 (709/3062) dan 710/3063).

Dalam ceritanya yang lain Ibn ‘Abbās menuturkan bahwa sewaktu Allāh S.W.T. memberitahukan rencana makar Quraisy kepada Nabi-Nya, malam itu juga ‘Aliy tidur di tempat tidur Nabi, sedangkan Nabi sendiri segera bertolak menuju sebuah gua. (Musnad ‘Abdillāh ibn l-‘Abbās r.a. 744/3251).

Abū Bakr r.a. berkata kepada Rasūlullāh s.a.w., ketika mereka berdua ada di dalam sebuah goa : “Seandainya saja salah seorang dari para pemburu kita itu melihat ke arah bawah kakinya, niscaya dia akan melihat kita.” Maka kata Rasūlullāh : “Abā Bakr! Tidakkah engkau yakin, di antara dua orang, Allāh adalah yang ketiganya?” (Musnad Abī Bakr Ash-Shiddīq r.a. 19/11).

Abū Bakr menceritakan perjalanannya menyertai Rasūlullāh s.a.w. hijrah : “Kami berjalan semalam suntuk, dan tidak pernah tidur di waktu siang maupun malam, hingga kami harus saling membantu untuk tetap terjaga dan berjalan tegak.

Suatu saat, mataku melihat sebuah tempat terlindung yang dapat kami jadikan tempat beristirahat barang sejenak. Lalu aku memilih berlindung di bawah bayangan sebuah batu besar. Aku persiapkan terlebih dahulu tempat itu bagi Rasūlullāh s.a.w., dan kuhamparkan sebuah jubah seraya berkata : “Berbaringlah, ya Rasūlallāh.” Maka beliau pun berbaring.

Aku sendiri berkeliling untuk memeriksa, kalau-kalau ada seseorang dari orang-orang yang tengah memburu kami di sekitar tempat itu, tetapi yang kutemui hanya seorang penggembala.

Aku pun bertanya kepadanya : “Bekerja pada siapakah engkau, hai anak muda?” Jawabnya : “Pada seorang Quraisy,” dan ketika dia menyebutkan namanya, aku pun mengenalnya. Lalu aku bertanya : “Apakah dari domba-domba gembalaanmu itu ada yang dapat diperah susunya?” Jawabnya : “Ada.” Maka aku pun bertanya : “Bisakah kau memerahkannya untukku?” Jawabnya : “Bisa.”

Aku pun memintanya untuk mengambil seekor kambing, lalu memercikkan air di sekitar puting susunya dan pada wadah penampungnya, agar bersih dari debu, serta memintanya untuk memasak terlebih dahulu perkakas minumnya, baru kemudian memerah susu secukupnya.

Aku lalu mendinginkan gelas berisi susu itu. Sesudah dingin, aku bawa kepada Rasūlullāh s.a.w. yang masih berbaring. Kataku : “Minumlah, ya Rasūlallāh.” Beliau pun minum sepuasnya, sampai aku senang melihatnya.

Kemudian aku bertanya : “Apakah anda telah siap untuk melanjutkan perjalanan kembali?”

Maka kami pun melanjutkan perjalanan, di tengah pengejaran orang-orang yang terus memburu kami, dan tidak ada satu pun dari mereka yang dapat menemukan kami, kecuali Surāqah ibn Mālik ibn Ju’syam, yang memburu kami dengan menunggang kuda.

Kataku : “ Rasūlallāh, itu dia orang yang memburu kita, dia sudah menemukan kita.” Kata beliau : “lā tahzan inna llāha ma’anā, jangan khawatir, sesungguhnya Allāh beserta kita.”

Ketika jarak dia semakin dekat, sekitar 1, 2 atau 3 tombak, aku berkata lagi : “Ya Rasūlallāh, itu dia orang yang memburu kita, dia sudah menemukan kita,” dan aku pun menangis. Tanya beliau : “Mengapa engkau menangis?” Jawabku : “Demi Allāh, aku menangis bukan karena khawatir atas keselamatan diriku, tetapi atas keselamatan anda.” (Musnad Abī Bakr Ash-Shiddīq r.a. 16/3. Sebagaimana yang diceritakan kembali oleh Al-Barrā` ibn ‘Āzib Al-Anshāriy r.a.).

Az-Zubair ibn l-‘Awwām r.a. bercerita : “Ibuku membawa dua helai kain. Katanya : “Inilah dua helai kain yang kubawa bagi saudaraku, Hamzah, karena telah sampai kepadaku berita terbunuhnya. Kita kafani dia dengan dua helai kain ini.”

Kami pun pergi dengan membawa dua helai kain itu untuk mengafani Hamzah. Sesampainya di tempat yang dituju, kami melihat di belakang Hamzah ada seorang Anshar yang juga terbunuh. Kami lalu mengurusnya seperti yang kami lakukan terhadap Hamzah. Kami merasa rendah dan malu jika kami mengafani Hamzah dengan dua helai kain, tetapi bagi orang Anshar itu tidak ada satu helai pun kain untuk mengafaninya. Karena itu kami putuskan dua helai kain itu kami bagi, satu untuk Hamzah, satu untuk orang Anshar itu, dan ketika kain yang satu lebih besar dari yang lain, kami pun memotong dan menjahitnya, sehingga Hamzaĥ dan orang Anshar itu sama-sama dikafani dengan kain yang sama besar. (Musnad Az-Zubair ibn l-‘Awwām r.a. 349/1418).

Umar ibn l-Khattāb r.a. bercerita, anaknya, Hafshah ditinggal mati oleh suaminya, Khunais atau Hudzaifah (perawi ragu mengenai namanya) ibn Hadzāfah, seorang sahabat peserta Badar r.a..

Lalu aku,” kata ‘Umar, “menemui ‘Utsmān ibn ‘Affān, meminta kesediaannya menikahi Hafshah, namun ‘Utsmān menolak secara halus. Aku pun menemui Abū Bakr keesokan harinya, dan meminta hal yang sama, namun dia tidak merespon permintaanku. Kemudian, sehari setelah itu, Rasūlullāh s.a.w. menyampaikan pinangannya kepadaku, maka aku pun menikahkan Hafshah kepada beliau.

Saat aku bertemu kembali dengan Abū Bakr, aku menanyakan sikapnya yang tidak merespon permintaanku untuk menikahi Hafshah, maka jawabnya : “Sesungguhnya tidak ada yang menghalangiku untuk merespon permintaanmu itu, selain aku telah mendengar Rasūlullāh s.a.w. menyebut-nyebut Hafshah, dan aku tidak ingin membuka rahasia beliau tersebut. Maka seandainya beliau tidak jadi menikahi Hafshah, niscaya aku yang akan menikahinya.” (Musnad Abī Bakr Ash-Shiddīq r.a. 37/74. Sebagaimana yang diceritakan kembali oleh Ibn ‘Umar r.a.).

Utsmān ibn ‘Affān r.a. bercerita bahwa semua sahabat sangat bersedih, saat wafatnya Nabi s.a.w., hingga sebagian dari mereka jatuh ke dalam kecemasan, dan aku, kata ‘Utsmān, adalah salah seorangnya. Aku hanya bisa duduk mengucilkan diri.

Saat itu, ‘Umar melewatiku dan mengucapkan salam kepadaku, tetapi aku tidak menyadarinya. ‘Umar pun berlalu, sampai ketika dia bertemu dengan Abū Bakr, dia pun berkata : “Anehkah menurutmu, saat aku melewati ‘Utsmān dan mengucapkan salam kepadanya, dia tidak membalas salamku?”

Lalu Abū Bakr dan ‘Umar menemuiku, dan mengucapkan salam kepadaku. Abū Bakr lantas berkata : “Saudaramu, ‘Umar, datang menemuiku, dan menceritakan bahwa dia telah melewatimu dan mengucapkan salam kepadamu, tetapi kamu tidak membalas salamnya, maka apakah gerangan yang mencegahmu membalas salamnya?”

Maka aku, kata ‘Utsmān, berkata : “Aku tidak berbuat demikian.” Namun ‘Umar berkata : “Tidak. Demi Allāh, kamu memang telah berbuat demikian. Kalian memang selalu mengabaikanku, wahai Bani Umayyah.” Aku pun berkata : “Demi Allāh, aku tidak menyadari kalau engkau telah melewatiku dan mengucapkan salam.”

Kata Abū Bakr : “‘Utsmān benar. Namun apakah yang membuatmu begitu sibuk, hingga tidak menyadari lewatnya ‘Umar?” Jawabku : “Ajal.” (Musnad Abī Bakr Ash-Shiddīq r.a. 23/20 dan 25/24. Sebagaimana yang diceritakan kembali oleh seorang Rijal dan Ahli Fiqh dari Anshar r.a.).

Sa’ad ibn Abī Waqqāsh r.a. bercerita : “Aku bertemu dengan ‘Utsmān ibn ‘Affān di Masjid. Aku pun mengucapkan salam, namun dia tidak membalasnya meski matanya sepenuhnya menatap ke arahku.

Aku segera mendatangi Amīru l-Mu`minīn ‘Umar ibn l-Khattāb, dan kutanyakan dua kali : “ Amīra l-Mu`minīn, apakah telah ada hal yang baru dalam Islam?” Jawabnya : “Tidak. Ada apa sebenarnya?” Kataku : “Tidak. Tidak ada apa-apa kecuali aku tadi bertemu ‘Utsmān di Masjid, lalu aku mengucapkan salam kepadanya, namun dia tidak membalasnya meski matanya sepenuhnya menatap ke arahku.”

Umar lalu menyuruh seseorang untuk memanggil ‘Utsmān. Setelah datang, ‘Umar bertanya kepadanya : “Apa gerangan yang mencegahmu untuk menjawab salam saudaramu ini? Kata ‘Utsmān : “Aku tidak berbuat begitu.” Kata Sa’ad : “Tapi kamu memang telah berbuat begitu. Aku berani sumpah.”

Kemudian setelah dijelaskan kejadiannya, ‘Utsmān pun ingat : “Ya benar. Aku mohon ampun kepada Allāh dan bertaubat kepada-Nya. Tadi engkau memang bertemu denganku, dan saat itu pikiranku tengah disibukkan oleh sebuah kalimat yang kudengar dari Rasūlullāh s.a.w.. Demi Allāh, apa yang tengah kupikirkan itu benar-benar telah menyita mata dan hatiku.”

Sa’ad pun berkata : “Aku akan menceritakan kepadamu kasus yang sama seperti yang menimpamu, yaitu Rasūlullāh s.a.w. pernah berjanji akan menerangkan kepada kami sebaik-baik doa, tetapi kemudian datang seorang A’rab, maka beliaupun sibuk dengannya.

Selesai urusannya dengan orang A’rab itu, beliau langsung pergi. Aku pun mengikutinya, dan ketika aku mempercepat langkahku agar dapat mendahului beliau, kakiku terpeleset, sampai aku terjatuh.

Rasūlullāh s.a.w. mendatangiku sambil bertanya : “Siapa ini? Abū Is-hāq?” Kataku : “Benar, Rasūlallāh.” Kata beliau : “Apa engkau punya keperluan?” Jawabku : “Tidak ada, demi Allāh, kecuali anda pernah hendak menerangkan kepada kami sebaik-baik doa, kemudian datang seorang A’rab, dan anda sibuk dengannya.”

Kata beliau : “Oh ya, betul. Sebaik-baik doa itu, doanya Dzu n-Nūn saat dia berada di perut ikan haut, yaitu lā ilāha illā anta subhanaka innī kuntu mina zh-zhālimīn. Tidak ada seorang muslim pun yang berdoa dengan doa tersebut kepada Rabbnya, dalam keadaan apa pun, kecuali pasti diijabah.” (Musnad Abī Is-hāq Sa’ad ibn Abī Waqqāsh r.a. 360/1462).

Fāthimah r.a. pernah menemui Abū Bakr, dan meminta bagian dari shadaqah Madinah, sebidang tanah Fadak, dan bagian seperlima dari saham Khaibar yang menjadi hak Rasūlullāh s.a.w. sewaktu beliau masih hidup. Fāthimah menganggap semua itu sebagai harta warisan Rasūlullāh, sehingga dirinya, sebagai anak Rasūlullāh, merasa berhak untuk mendapatkan bagian dari semua itu.

Saat itu, Fāthimah bertanya kepada Abū Bakr : “Engkau yang berhak menerima waris dari Rasūlullāh s.a.w., atau keluarganya?” Jawab Abū Bakr : “Tidak, aku tidak berhak, yang berhak adalah keluarganya.” Fāthimah juga bertanya : “Siapa yang mewarisi engkau, jika engkau wafat?” Jawab Abū Bakr : “Orangtuaku dan keluargaku.” Lalu Fāthimah bertanya : “Lantas mengapa kami tidak menerima bagian dari yang menjadi hak Nabi semasa beliau hidup?”

Kata Abū Bakr : “Aku telah mendengar Rasūlullāh bersabda : “Sesungguhnya seorang Nabi tidak diwaris, yang kami tinggalkan adalah shadaqah, dan keluarga Muhammad hanya boleh makan dari harta shadaqah tersebut.” Dan aku juga telah mendengar, Rasūlullāh bersabda : “Sesungguhnya Allāh jika telah memberi makan seorang Nabi, Dia akan menahannya bagi orang sesudahnya.” Dan aku, demi Allāh, tidak akan menganjurkan kepada suatu perkara, yang aku tahu Rasūlullāh telah mencegah dirinya dari perkara tersebut. Sesungguhnya tidak ada satu pun perkara yang Rasūlullāh kerjakan, kecuali aku pun mengerjakannya, dan aku sungguh takut jika ada perkara yang beliau amanahkan, namun aku mengabaikannya.”

Lalu Abū Bakr berkata : “Sesungguhnya aku, demi Allāh, tidak akan pernah merubah sedikit pun ketentuan shadaqah yang Rasūlullāh telah halalkan menjadi hak engkau, dan aku benar-benar akan memenuhinya bagimu, sebagaimana yang telah dikerjakan oleh Rasūlullāh. Maka mengenai bagian shadaqah Madinah bagi Rasūlullāh itu, ‘Umar telah menyerahkannya kepada ‘Aliy dan ‘Abbās, yang kemudian diterima sepenuhnya oleh ‘Aliy. Adapun mengenai bagian Rasūlullāh di Khaibar dan Fadak, kuserahkan kepengurusannya di tangan ‘Umar, dan aku telah mengembalikan saham Rasūlullāh tersebut bagi kepentingan umum kaum muslimin.”

Fāthimah pun marah, dan menarik diri dari Abū Bakr, hingga wafat. Terhadap alasan yang dikemukakan Abū Bakr, Fāthimah berkata : “Maka engkau, dan apa yang engkau dengar dari Rasūlullāh, lebih mengetahui.”

Menanggapi sikap marah dan penarikan diri Fāthimah, Abū Bakr hanya berkata kepadanya : “Demi Dzat yang jiwaku dalam genggaman-Nya, engkau adalah kerabat Rasūlullāh yang sangat aku sayangi, lebih daripada kerabatku sendiri, adapun persoalan di antara kita menyangkut soal harta tersebut, maka aku tidak memutuskan kecuali berdasar hal yang benar, dan aku tidak akan mengabaikan apa yang aku tahu Rasūlullāh telah mencegah dirinya dari perkara tersebut.” (Musnad Abī Bakr Ash-Shiddīq r.a. 19/9, 20/14, 25/25, 31/55, 32/58, dan 33/60. Teks di atas merupakan gabungan dari beberapa berita).

Abū Bakr r.a. pernah sangat marah kepada salah seorang muslim. Melihat itu, Abū Barzah berkata kepadanya : “ Khalīfatarrasūlillāh, apakah engkau akan memenggal lehernya?”

Abū Barzah pun lantas mengingatkan tentang hukum membunuh seorang muslim, tetapi Abū Bakr menolak hadits yang disampaikannya, dengan alasan adanya keterangan lain.

Maka,” kata Abū Barzah, “lama setelah itu, Abū Bakr datang menemuiku, dan berkata : “Hai Abā Barzah, apa yang kau katakan waktu itu?”

Kata Abū Barzah : “Aku lupa apa yang telah kukatakan. Tolong ingatkanlah aku tentang apa yang telah kukatan itu.”

Abū Bakr bertanya : “Kamu benar-benar tidak ingat?” Jawab Abū Barzah : “Tidak, demi Allāh, aku benar-benar tidak ingat.” Maka Abū Bakr pun menjelaskan : “Apakah engkau ingat ketika engkau melihat aku sangat marah kepada seorang muslim, lalu engkau berkata : “Apakah engkau akan memenggal lehernya, Khalīfatarrasūlillāh?”

Sekarang, apakah engkau ingat peristiwa itu? Bukankah engkau yang telah berkata demikian itu?” Jawab Abū Barzah : “Ya, benar, demi Allāh, tapi sekarang, jika engkau memerintahkan aku untuk memenggal lehernya, aku pasti akan kerjakan.”

Kata Abū Bakr : “Celakalah kamu, binasalah kamu, karena membunuh seorang muslim itu, demi Allāh, tidak halal bagi seorang pun, sesudah Muhammad menetapkan keharamannya.” (Musnad Abī Bakr Ash-Shiddīq r.a. 33/61).

Abū Żārr r.a. datang meminta izin menemui ‘Utsmān ibn ‘Affān dengan membawa sebuah tongkat, dan diizinkan.

Saat itu, ‘Utsmān tengah bertanya kepada Ka’ab : “ Ka’ab, sesungguhnya ‘Abdurrahmān telah wafat dan meninggalkan suatu harta, apa pendapatmu?” Jawab Ka’ab : “Jika harta itu berkaitan dengan hak Allāh, maka tiada halangan untuk memanfaatkannya.”

Abū Żārr pun mengangkat tongkatnya dan memukul Ka’ab, seraya berkata : “Aku mendengar Rasūlullāh bersabda : “Aku tidak akan pernah suka seandainya aku mempunyai gunung emas yang akan kuinfaqkan, lalu di belakangku, seekor semut mengambilnya walau hanya sebanyak enam serpih.”

Lalu Abū Żār berkata tiga kali : “Bersumpahlah engkau, demi Allāh, ‘Utsmān, bukankah engkau juga telah mendengarnya?” Jawab ‘Utsmān : “Ya.” (Musnad ‘Utsmān ibn ‘Affān r.a. 139/453. Sebagaimana yang diceritakan kembali oleh Mālik ibn ‘Abdillāh Az-Ziyādiy r.a.).

Aliy ibn Abī Tālib r.a. bercerita bahwa ‘Umar pernah berbicara kepada khalayak : “Apa pendapat kalian mengenai kelebihan harta yang ada padaku?” Jawab mereka : “ Amīra l-Mu`minīn, sungguh kami telah menyibukkan anda dari memperhatikan kebutuhan keluarga anda sendiri, serta telah membebani anda dan telah menzalimi anda, karena itu kelebihan harta itu pantas menjadi milik anda.”

Umar lalu bertanya kepadaku : “Apakah ada yang akan engkau katakan?” Jawabku : “Mereka telah menyampaikannya kepada anda.” Kata ‘Umar : “Ayo, katakanlah.” Kataku : “Mengapa yang anda telah yakini, anda jadikan zhann?” Kata ‘Umar : “Karena itulah engkau harus menyampaikan kata-katamu.” Kataku : “Itu pasti! Demi Allāh, aku benar-benar akan menyampaikannya.”

Apakah anda ingat saat Nabi mengangkat anda sebagai petugas khusus mengambil shadaqah, lalu anda mendatangi ‘Abbās, namun dia melarang anda untuk mengambil shadaqahnya, sehingga di antara anda berdua terjadi sesuatu. Kemudian anda berkata padaku : “Ikutlah bersamaku menghadap Nabi.” Tetapi ketika kita mendapati beliau tengah diam terpaku, kita pun kembali.

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali kita menghadap beliau, dan kita mendapati beliau dalam keadaan senang. Lalu anda sampaikan kepada beliau tentang perbuatan ‘Abbās, maka beliau berkata kepada anda : “Engkau yang tahu tentang pamannya seseorang, ataukah anak saudara bapaknya?”

Kemudian kita menyampaikan apa yang kita lihat pada diri beliau, yaitu keterpakuan beliau di hari kemarin, dan kegembiraan beliau di hari ini. Kata beliau : “Sesungguhnya ketika kalian datang kemarin, padaku masih tersisa dua dinar shadaqah, maka keterpakuanku yang kalian lihat itu adalah karena dua dinar itu, sedangkan ketika kalian datang sekarang, aku memandang wajah kalian, maka kegembiraanku yang kalian lihat itu adalah karena melihat wajah kalian itu.”

Kata ‘Umar (kepada ‘Aliy) : “Engkau benar. Demi Allāh, aku benar-benar berterimakasih kepadamu, dunia akhirat.” (Musnad ‘Aliy ibn Abī Tālib r.a. 202/725).

AKU TIDAK INGIN MENJADI ORANG YANG KARENANYA ISLAM TIDAK LAGI BISA DIPERCAYA!


Alkisah datang dua pemuda ke majlis ‘Umar ibn l-Khattāb r.a., dengan membawa seseorang.

Wahai Āmira l-Mu`minīn,” seru kedua pemuda itu, “kami datang membawa pembunuh ayah kami, maka laksanakanlah hukum Allāh atasnya.”

Umar ibn l-Khattāb bertanya kepada orang yang dituduh membunuh itu, “benarkah yang dikatakan dua pemuda ini?”

Orang itu menjawab, “Benar hai Āmira l-Mu`minīn. Aku ini orang dusun yang datang hendak berziarah ke makam Rasūlullāh. Di pinggir kota, aku berhenti untuk mandi dan bersuci. Aku tambatkan kudaku di samping tembok kebun seseorang yang tidak kukenal. Kemudian saat aku keluar dari pemandian umum, aku lihat kudaku tengah memakani pucuk-pucuk korma dari kebun tersebut. Aku pun segera menariknya menjauh. Saat itulah seorang yang sudah tua mendatangi kami seraya marah-marah. Ia pun melempar kepala kudaku dengan batu dan menyebabkannya mati seketika. Melihat itu, aku jadi gelap mata, aku ambil batu itu, dan kulemparkan ke kepala orang tua itu hingga ia pun mati seketika. Orangtua itu belakangan kuketahui adalah ayah dari dua anak muda ini.”

Demi Allāh, wahai Āmira l-Mu`minīn,” lanjut orang itu, “seandainya aku tidak takut akan balasan yang lebih dahsyat dari Allāh, niscaya saat itu juga aku akan melarikan diri, dan sungguh tak akan ada yang tahu perbuatanku itu, kecuali aku dan Allāh ‘Azza wa Jalla.”

Singkat cerita, tertuduh itu pun kemudian dijatuhi hukuman mati. Ia pun berkata, “Aku terima hukuman ini, wahai Āmira l-Mu`minīn. Namun aku mohon ditangguhkan pelaksanaannya, karena aku tengah menanggung keuangan seorang anak yatim hingga ia baligh. Aku tentu harus mencari penggantiku, dan menunjukkan tempat penyimpanan harta anak yatim itu yang hanya aku seorang yang mengetahuinya. Untuk itu, izinkanlah aku kembali ke kampungku, dan beri waktu aku selama tiga hari,” katanya memohon.

Aku tidak dapat memenuhi permintaanmu itu,” kata ‘Umar, “kecuali jika ada orang yang bersedia menjadi jaminanmu, yang akan menggantikanmu jika kamu ingkar janji.”

Orang itu pun menatap satu persatu para sahabat Rasūl yang hadir di majlis itu. “Ini dia yang menjadi jaminanku,” katanya sambil memegang lengan Abū Żārr Al-Ghifāriy r.a..

Baiklah, aku setuju,” kata Abū Żārr, dan ‘Umar pun menyetujuinya.

Orang itu pun pergi. Namun sampai tiga hari, ia tidak kembali-kembali. Masyarakat pun menjadi gelisah. Kasihan kepada Abū Żārr dan benar-benar geram kepada si terdakwa. Kedua pemuda yang menuntut berkata kepada Abū Żārr, “Hai Abā Żārr, inilah akibat kamu menerima begitu saja orang yang tidak pernah kau kenali. Jika sampai sore hari ini, ia tidak kembali, maka engkaulah yang harus menjalani hukuman mati.”

Dan benar, hingga hari menjelang sore, si terdakwa tidak kunjung kelihatan. Baru ketika hukuman mati akan dilaksanakan terhadap Abū Żārr, ia datang dengan tergopoh-gopoh, seraya berteriak, “maafkan aku, maafkan aku. Aku telah membuat kalian menunggu, dan hampir menimpakan hukuman mati kepada yang tidak pantas mendapatkannya.”

Apakah kalian mengira aku akan mengingkari janji?”, kata si terdakwa kemudian, “Tidak, demi Allāh, jika aku mau lari, sejak semula lari adalah lebih baik bagiku, namun aku takut balasannya Allāh, Raja Hari Penghisaban, dan aku tidak ingin menjadi orang yang menyebabkan manusia akan berkata sudah tidak ada lagi kata-kata yang dapat dipegang kebenarannya di Islam.”

Dan ketika orang-orang bertanya kepada Abū Żārr, kenapa ia mau menjadi jaminan orang yang tidak dikenalnya, beliau menjawab, “Demi Allāh, aku tidak kuasa menolaknya, dan aku tidak ingin menjadi orang yang menyebabkan manusia akan berkata sudah tidak ada lagi persaudaraan dan tolong-menolong di Islam.”

Mendengar itu, kedua pemuda yang menuntut segera mencabut tuntutannya dan memaafkan si terdakwa, seraya berkata, “Demi Allāh, kami pun tidak ingin jadi orang yang menyebabkan manusia akan berkata sudah tidak ada lagi hati yang penuh belas kasih di Islam.”

Demikianlah. Takut kepada pembalasan Tuhan dan khawatir menjadi orang yang karenanya Islam tidak lagi pantas dipercaya, merupakan mutiara berharga bagi kemajuan Islām wa l-muslimūn yang pantas kita miliki kembali saat ini. Setuju?